twitter

Pages

Senin, 07 Mei 2018

Stand Tristar Group di PTC Disambangi Walikota Surabaya Tri Rismaharini


Dari Gelaran Indonesia Chef Expo 2018 di Pakuwon Trade Centre

Walikota Tri Rismaharini Sempatkan Diri Mampir di Stand Tristar Group, Cicipi Minuman Tradisional Racikan Mahasiswa


WALIKOTA Surabaya DR (HC) Ir Tri Rismaharini yang menyempatkan diri mampir di stand Tristar Group dan mencicipi minuman hasil racikan mahasiswa Tristar Group – mengelola Akpar Majapahit, Tristar Institute dan Politeknik Surabaya— menjadi momentum spesial sekaligus membanggakan bagi segenap civitas akademika lembaga pendidikan tinggi yang berkantor pusat di Graha Tristar Jl. Raya Jemursari No. 244 Surabaya.


Bagaimana tidak, usai Walikota Tri Rismaharini membuka Munas I Perkumpulan Chef Profesional Indonesia (PCPI) dan Indonesia Chef Expo (ICE) 2018 di Pakuwon Trade Centre, Jumat 04/05/2018) siang, diajak keliling oleh Panitia Munas untuk mengunjungi stand peserta ICE 2018.

Tri Rismaharini di dampingi Ketua Umum DPP PCPI Chef Bambang Nurianto bersama jajaran Pengurus dan Ketua Panitia Munas I PCPI meninjau satu per satu stand peserta pameran ICE 2018. Nah, setelah menyempatkan diri mampir dan berdialog dengan sejumlah peserta pameran, Walikota diarahkan Chef Bams, sapaan akrab Bambang Nurianto dan Panitia Munas I PCPI 2018 mampir ke stand Tristar Group.

Kedatangan Walikota ke stand Tristar Group disambut langsung oleh Head of Public Relation Officer Tristar Group Hendrik Adrianus SE, M.Par dan sejumlah mahasiswa. Salah satu mahasiswa Akpar Majapahit lalu menyodorkan minuman tradisional hasil racikan mahasiswa untuk dinikmati Walikota Tri Rismaharini.

Alumni FTS ITS jurusan Planologi ini tidak menampiknya. Minuman tradisional itu pun dicicipi sambil mencoba menebak resep minuman tersebut komposisi bahannya terdiri dari apa saja. Resep minuman tradisional hasil kreasi Agus Jaya Mulyana, Bartender Profesional dari Surabaya ini pun diminumnya sampai habis. “Rasanya oke banget, Segar ditenggorokan. Minuman tradisional ini saya kira layak untuk diangkat ke level nasional,” katanya setengah berpromosi.

Sementara itu, saat memberi sambutan di hadapan peserta Munas I PCPI di Pakuwon Trade Centre, akhir pekan lalu, Tri Rismaharini mengapresiasi semangat para chef profesional anggota PCPI se-Indonesia bahkan chef yang bekerja di luar negeri yang bertekad mengangkat aneka produk kuliner tradisional Indonesia –baik makanan, kue dan minuman-- ke tingkat global sekaligus mempromosikan kekayaan kuliner Indonesia ke tingkat regional bahkan internasional (global).

Menurut Tri Rismaharini, profesi chef sekarang sangat menjanjikan. Chef tidak lagi duduk di belakang layar tetapi juga bisa tampil di depan seperti chef artis yang belakangan ini marak berbagi ilmu dengan pemirsa di layar kaca atau tampil jadi bintang tamu saat launching produk baru dan acara demo masak di pusat-pusat perbelanjaan.

Pengalaman mengunjungi Belanda, diundang Pemerintah Kerajaan Belanda, oleh pihak Kedubes RI di Belanda, dirinya diajak mencicipi masakan tradisional Indonesia yang dihidangkan oleh seorang chef asal Indonesia (Bu Risma mengaku lupa namanya) yang memang menyiapkan masakan instimewa itu khusus untuk Walikota Surabaya.

Chef profesional itu juga bisa menjadi seorang entertainment sekaligus duta wisata Indonesia di luar negeri. Lewat kepiawaiannya memasak atau meracik minuman, misalnya, maka makanan yang tadinya hanya biasa-biasa saja, lewat sentuhan tangan mereka maka tampilan makanan itu jadi luar biasa, begitu juga citarasa dan teksturnya,” puji Walikota Tri Rismaharini dan disambut applaus panjang oleh peserta Munas.

”Jangan sampai tahu campur  Lamongan yang namanya sudah menasional itu tiba-tiba diklaim oleh negara lain sebagai warisan kekayaan kuliner negaranya. Untuk itu kami siap bantu PCPI menguruskan hak patennya,” ujar Bu Risma, sapaan akrab Walikota Surabaya.

Sementara itu, Ketua Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Ir Sumarna F. Abdurrahman M.Sc., menekankan pentingnya sertifikasi profesi untuk para chef anggota PCPI yang tersebar di Indonesia dan luar negeri.

Untuk disebut sebagai profesi, syaratnya ada tiga yakni (1). Memenuhi standar kompetensi (kemampuan chef secara berjenjang). (2). Melalui mekanisme pendidikan dan pelatihan (learning by doing and being) dan (3). Pengakuan masyarakat.

Untuk itu, chef wahib mengikuti Sertifikasi Profesi yang dilakukan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), yang dalam hal ini DPP PCPI telah dipercaya pemerintah menjadi LSP, sehingga bisa menggelar program Sertifikasi Profesi kepada anggotanya sendiri. DI Indonesia sedikitnya ada empat profesi yang diakui publik baik di level nasional, regional dan internasional yakni Dokter, Lawyer, Wartawan dan Chef.

Profesi chef tidak harus bekerja di hotel, restoran atau café & resto, tetapi juga bisa mengisi posisi .head chef di RS. Mereka biasanya ditandemkan dengan ahli gizi, agar selera makan pasien tetap tinggi dan memberi sugesti bahwa mereka bisa cepat sembuh karena menu makanan yang dihidangkan selain tampilannya oke juga teksturnya lembut dan enak rasanya. 

Munas I PCPI dan Indonesia Chef Expo (ICE) 2018 di PTC yang berlangsung tiga hari, mulai 04-06 Mei 2018 lalu, juga menjadi tantangan tersendiri bagi segenap pengurus dan anggota PCPI di seluruh Indonesia karena mereka juga mendapat tugas negara untuk membuat dictionary aneka makanan (termasuk kue dan minuman) tradisional Indonesia untuk dibukukan dan dipatenkan di Ditjen HAKI Kemenkumham.

Anda tertarik dengan aneka kegiatan mahasiswa jaringan pendidikan Tristar Group dan ingin menjadi bagian dari civitas akademika Tristar Group, silakan menghubungi Divisi Marketing Tristar Group cq Akpar Majapahit di Graha Tristar Jl Raya Jemursari No. 244 Surabaya, Telp. (031) 8433224-25, 8480821-22, sekarang juga. (ahn)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar