twitter

Pages

Kamis, 22 Februari 2018

Ir Sri Julianti Berbagi Ilmu Seputar Packaging for Marketing di MaxOne Hotels Tidar Surabaya


Dari Seminar Packaging for Marketing di MaxOne Hotels Tidar
A
82 Peserta Seminar Antusias Berdiskusi Seputar Sisik Melik tentang Packaging untuk Marketing sebagai Brand Owner 

DEMI membekali pengetahuan seputar sisik melik tentang Packaging untuk Marketing sebagai Brand Owner dari ahlinya langsung, 82 orang peserta seminar --terdiri dari 70 mahasiswa Akpar Majapahit dan enam Dosen Akpar Majapahit, Politeknik Surabaya dan Tristar Institute (Tristar Group), serta enam orang peserta dari Koperasi Agrobisnis Tarutama Nusantara (TTN) Jember-- antusias menghadiri seminar bertajuk Packaging for Marketing di MaxOne Hotels Tidar Surabaya, Rabu (21/02/2018) siang.


Dalam seminar tersebut kembali dihadirkan narasumber yang berkompeten di bidang packaging (kemasan) yakni Ir Sri Julianti. Perempuan paro baya alumni Fakultas Teknik Kimia ITS 1982 silam itu merupakan Pakar sekaligus Konsultan Packaging yang telah berpengalaman sekitar 30-an tahun bekerja di perusahaan multinasional Unilever.

Seminar yang mengupas seputar sisik melik desain tentang Packaging for Marketing itu boleh dibilang sebagai kuliah kedua bagi segenap civitas akademika Akpar Majapahit dan Tristar Institute (Tristar Group) dari Ir Sri Julianti, demi mengetahui perkembangan teraktual dari Packaging untuk Marketing sebagai Brand Owner di Open Oven Distro MaxOne Hotels Tidar Surabaya, kemarin.

Jika pada kuliah perdana November 2017 lalu, peserta seminar dikenalkan Basics Packaging. Packaging is Art, Science & Technology. Kemasan adalah Seni, Ilmu Pengetahuan dan Technologi. Namun pada diskusi kali ini pembahasannya lebih menitikberatkan pada Packaging untuk Marketing sebagai Brand Owner.

Pada satu sisi, kemasan dapat menunjang pertumbuhan bisnis, tetapi juga dapat membuat bisnis Anda gagal. Oleh karena itu perlu peran marketing. Marketing adalah fungsi yang berkaitan dengan pemasaran sebagai sebuah proses dan visi masa depan, seperti yang disarikan dari Marketing Science Institute Research Priorities.

Menurut hasil kajian dari The Institute of Marketing, Marketing juga didefinisikan sebagai proses manajemen yang bertanggung jawab untuk mengidentifikasi, antisipasi dan memuaskan pelanggan sekaligus menguntungkan.

Hal ini berarti Pelanggan adalah Target Konsumen. Makanya, Marketing harus mengerti tentang kebutuhan dan keinginan pelanggan yang amat kritikal demi suksesnya pemasaran. Peran marketing terutama mengatur relasi penting antara pelanggan dan elemen dari perusahaan termasuk relasi pelanggan dengan Produk, Retail dan Finansial.

Produk tanpa merek dan kemasan, konsumen tidak tahu apa dan siapa pembuatnya. Tidak ada identifikasi maka boleh jadi produk tersebut tidak dilirik konsumen. Kemasan produk yang baik dan menarik, selain ditujukan untuk merebut hati konsumen demi mendongkrak pemasarannya, juga harus bisa memudahkan penyimpanan dan pendistribusian produk tersebut hingga ke pelosok.

Sebaliknya jika sebuah produk itu –sekalipun berkualitas— jika kemasannya salah, meskipun ditata di rak utama tetap tidak menarik konsumen untuk membelinya. Hal ini berarti kemasan salah bisa menyebabkan gagalnya dalam pemasaran karena produk tidak bisa dijual.

Kemasan produk yang tidak menarik dikesankan bahwa produk itu tidak enak. Inilah yang disebut bahwa kemasan merupakan Silent of Salesman. Fakta ini bisa dilihat dari promo produk yang ditata rapi di rak sebuah toko swalayan.

Untuk bisa bersaing dengan produk sejenis, kemasan produk harus menonjol –warna kemasan lebih ngejreng—di antaranya pesaingnya. Dengan tampilan seperti itu maka produk tersebut lebih mudah dikomunikasikan kepada konsumen.

”Sebelum memastikan produk dengan kemasan seperti itu diterima konsumen, ada baiknya dilakukan survei & riset dengan melibatkan lembaga independen sekelas Survey Research Indonesia (SRI) atau kalau dana risetnya terbatas, cukup Anda mengadakan riset kecil-kecilan dengan melibatkan tetangga kanan kiri dalam lingkup Kelurahan atau minimal RT/RW di mana Anda tinggal,” cetus bu Juli, sapaan akrab Sri Julianti kepada kru www.culinarynews.info, usai seminar.

Untuk mengukur kemasan produk Anda bagus, Anda harus membandingkan dengan produk kompetitor. Misalnya, kripik pisang, maka pembanding Anda tidak hanya produk sejenis yakni sesama kripik pisang, melainkan juga kripik lain seperti kripik singkong, kripik kentang, kripik ketela rambat, kripik talas.

Begitu juga jika Anda membuat produk pisang sale, maka produk kompetitor yang harus Anda cermati tidak hanya sesama produk pisang sale, tetapi bisa juga produk kurma. Jika Anda membuat nastar, maka Anda bisa saja membandingkannya dengan produk cookies yang lain, tidak hanya nastar yang dibuat pesaing.

Dalam berbagai diskusi seputar Packaging, pihaknya selalu menekankan pentingnya keamanan produk makanan yang dijual. Artinya aman di sini adalah produk tersebut steril dan layak untuk dikonsumsi. ”Jangan sampai sampai di kemasannya tertulis tanggal kedaluarsa sampai Maret 2018, ternyata produk itu dibeli konsumen pada Februari 2018 barangnya sudah berjamur. Ini sangat berbahaya bagi konsumen karena bisa saja menimbulkan keracunan,” tandasnya.

Sekadar informasi, sedikitnya ada empat tujuan packaging sebuah produk makanan atau non food, yakni untuk menjual (produk bisa dijual), penampilan secara visual menarik, fungsional (packaging dari produk itu mudah dibuka, digunakan dan ditutup kembali) dan terakhir untuk fungsi proteksi terhadap bahan di dalamnya (isi kemasan) agar tidak meracuni konsumennya ketika dikonsumsi.

Packaging sulit diaplikasikan oleh orang awan termasuk pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Kendala itu secara bertahap telah dipecahkan oleh pemerintah terutama Disperindag Kota Surabaya dan Disperindag Jatim dengan menyediakan kemasan produk-produk UMKM karena telah mendirikan lembaga riset kemasan untuk membantu UMKM yang jumlahnya ribuan di Jatim.

Namun masih ada kelemahan dari sisi desain produk UMKM yang disediakan Pemkot Surabaya maupun Pemprov Jatim karena desain kemasannya monoton dan nyaris seragam hanya beda warna saja. ”Kalau saya boleh kasih saran, perlu diperbaiki desain kemasannya biar tampilannya lebih atraktif. Desainer-nya pum jangan sekadar copy paste demi mengejar deadline cetak kemasan dan target produksi,” tandas Sri Julianti.

Anda tertarik dengan aneka kegiatan mahasiswa Akpar Majapahit di Gedung Graha Tristar, silakan menghubungi Tim Marketing di Front Office (FO) Akpar Majapahit Jl Raya Jemursari No. 244 Surabaya, Telp. (031) 8433224-25, sekarang juga. (ahn)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar