twitter

Pages

Jumat, 23 Februari 2018

Demi Promosikan Brand Owner Produknya, Setiap Kelompok Tampil All Out saat Simulasi


Dari Seminar Packaging for Marketing di MaxOne Hotels Tidar
A
Setiap Kelompok Peserta Seminar Tampil All Out saat Simulasi, demi Promosikan ”Brand Owner” Produknya
SEBANYAK 78 dari 82 peserta seminar –dibagi menjadi delapan kelompok, masing-masing beranggotakan 9-10 orang per kelompoknya— tampil all out saat simulasi demi mempromosikan brand owner produknya pada acara seminar yang bertajuk Packaging for Marketing di MaxOne Hotels Tidar Surabaya, Rabu (21/02/2018) siang.


78 peserta seminar yang mengikuti simulasi adalah 70 mahasiswa Akpar Majapahit, dua Dosen Politeknik Surabaya dan enam orang peserta dari Koperasi Agrobisnis Tarutama Nusantara (TTN) Jember. Setiap kelompok berupaya tampil sebaik mungkin saat simulasi, demi mempromosikan brand owner produknya di hadapan narasumber dan kelompok yang lainnya.

Kelompok 1 yang tampil kali pertama, memproduksi Suprakrips (Kripik Pisang) dijual Rp 13.000 per pack isi 150 gram dalam kemasan plastik Standing Pouch. Easy Open, Easy Close. ”Target konsumen (pasar) adalah kelompok menengah atas. Kompetitor Kripik Singkong, Kripik Jagung dan Kripik Melinjo,” kata Muhammad Kandayani, Ketua Kelompok 1 (Saleh).

Selanjutnya yang tampil untuk mempresentasikan brand owner produknya adalah Kelompok 2 (By Accident). Kelompok 2 memproduksi Onigiri (Rasa Lokal) dengan brand Inori Nusantara. Harga Rp 15.000 per box-nya.

”Target konsumen kalangan mahasiswa, orang kantoran dan ibu-ibu muda yang suka ngemil tapi kenyang. Produk pesaing Nasi Geprek dan Nasi Njamur (Nasi Kotak),” kata Fadhil, Ketua Kelompok 2. Untuk pemasarannya sendiri antara lain menyasar lingkungan kampus, booth (stan food court), layanan online system bekerja sama dengan Go Food.

Sedangkan Kelompok 3 (Ceria). Kelompok ini memproduksi Sambal Kecap Udang dengan brand Nikmat. Menurut Ketua Kelompok 3 Susanna, sambal kecap ini sasaran konsumennya meliputi semua kalangan termasuk anak kos-kosan.

”Harga sambal kecap yang dikemas dalam kemasan plastik pouch ukuran 150 gram dijual Rp 20.000-an, sedangkan untuk kemasan sachet ukuran 50 gram hanya dibandrol Rp 5.000. Pesaing berat sambal kecap produksi Kelompok 3 terutama dari kalangan pabrikan yakni Indofood, Sedaap dan ABC,” ujarnya.

Sementara itu, Kelompok 4 (Huhaii) yang memproduksi sambal dengan Djancoeg sebagai brand-nya. Produk ini membidik konsumen utamanya para pecinta rasa pedas. Untuk pemasarannya sendiri, sambal ini di-display di supermarket, rumah makan dan online system (sosial media).

Untuk kemasan besar dengan ukuran 100 gram, sambal Djancoeg dijual Rp 20.000 sedangkan sambal yang berukuran kecil 10 gram hanya dibandrol Rp 3.000 per piece-nya.

Berikutnya Kelompok 5 mempresentasikan brand owner-nya yakni Splash Water (Infuse Water) dengan merek Suprim. Target konsumen minuman kesehatan ini kalangan keluarga. Pemasarannya sendiri difokuskan di area Car Free Day (CFD), tempat kebugaran, kawasan sekolahan dan supermarket.

”Produk minuman kesehatan ini merupakan pesaing utama dari You C-1000. Minuman ini kami bandrol Rp 7.500 per botol plastik isi 350 ml. Suprim layak dikonsumsi untuk menjaga kebugaran dan meningkatkan daya tahan tubuh Anda,” kata Alexander, Ketua Kelompok 5, usai presentasi.

Giliran selanjutnya yang tampil presentasi adalah Kelompok 6. Ketua Kelompok 6 (Bro-Chick) mempresentasikan brand owner produknya yakni Chiekz. Produksinya antara lain Chicken Salted Egg, Chicken Samijang dan Chicken Sambal Matah.

Target konsumennya terutama kalangan remaja dan pemasarannya sendiri membuat booth-booth kecil di mall dan event bazaar. Pesaing utamanya adalah Chi-Fry hanya bedanya saus Chiekz telah dimodifikasi mengikuti trend pasar kekinian. Produk Chiekz ditawarkan pada kisaran Rp 18.000-Rp 22.000 per box-nya (dalam bentuk mini take away box).

Berikutnya yang tampil adalah Kelompok 7 (Werrrrh). Kelompok 7 yang diketuai Johan memproduksi Mie Bayam Susilo dengan brand-nya Susilo Cahaya. Target konsumen produk ini adalah kelompok paro baya. Mie Bayam Susilo dijual di supermarket.

Terakhir, Kelompok 8 (Coca-Coca) yang tampil dengan mengusung produk unggulannya yakni Kripik Lele dengan brand Lele Coca. Menurut ketuanya, Vicky, produk Kripik Lele merek Lele Coca ini target konsumen terutama kalangan menengah bawah.Kripik ini dijual di semua toko makanan dan pusat oleh-oleh (wisata oleh-oleh) di kota-kota besar di Jatim.

Ir Sri Julianti yang dihadirkan oleh pihak Panitia sebagai narasumber dalam seminar Packaging for Marketing itu juga antusias mendengarkan sekaligus mengkritisi presentasi yang dibawakan oleh ketua kelompok atau penanggung jawab kelompok, mulai Kelompok 1 sampai Kelompok 8. 

Acara simulasi itu semakin semarak berkat kepiawaian perempuan paro baya alumni Fakultas Teknik Kimia ITS 1982 silam itu ketika memandu acara tersebut. Setiap kelompok berupaya keras mempertahankan tesisnya saat kelompok lainnya dan nara sumber mengkritisi brand owner produk yang dipresentasikan.

Sri Julianti yang merupakan Pakar sekaligus Konsultan Packaging dengan pengalaman sekitar 30-an tahun bekerja di perusahaan multinasional Unilever itu juga banyak memberi masukan dan tips kepada masing-masing kelompok agar produknya –tentunya dengan desain kemasan yang menarik-- bisa diterima konsumen dan laku dijual di pasaran.

Menurut hasil kajian dari The Institute of Marketing, Marketing juga didefinisikan sebagai proses manajemen yang bertanggung jawab untuk mengidentifikasi, antisipasi dan memuaskan pelanggan sekaligus menguntungkan.

Hal ini berarti Pelanggan adalah Target Konsumen. Makanya, Marketing harus mengerti tentang kebutuhan dan keinginan pelanggan yang amat kritikal demi suksesnya pemasaran. Peran marketing terutama mengatur relasi penting antara pelanggan dan elemen dari perusahaan termasuk relasi pelanggan dengan Produk, Retail dan Finansial.

Produk tanpa merek dan kemasan, konsumen tidak tahu apa dan siapa pembuatnya. Tidak ada identifikasi maka boleh jadi produk tersebut tidak dilirik konsumen. Kemasan produk yang baik dan menarik, selain ditujukan untuk merebut hati konsumen demi mendongkrak pemasarannya, juga harus bisa memudahkan penyimpanan dan pendistribusian produk tersebut hingga ke pelosok.

Sebaliknya sebuah produk itu –sekalipun berkualitas— jika kemasannya salah, meskipun ditata di rak utama tetap tidak menarik konsumen untuk membelinya. Hal ini berarti kemasan salah bisa menyebabkan gagalnya dalam pemasaran karena produk tidak bisa dijual.

Kemasan produk yang tidak menarik dikesankan bahwa produk itu tidak enak. Inilah yang disebut bahwa kemasan merupakan Silent of Salesman. Fakta ini bisa dilihat dari promo produk yang ditata rapi di rak sebuah toko swalayan.

Anda tertarik dengan aneka kegiatan mahasiswa Akpar Majapahit di Gedung Graha Tristar, silakan menghubungi Tim Marketing di Front Office (FO) Akpar Majapahit Jl Raya Jemursari No. 244 Surabaya, Telp. (031) 8433224-25, sekarang juga. (ahn)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar