twitter

Pages

Sabtu, 27 Januari 2018

Mahasiswa Akpar Majapahit ke Malaysia, Sukseskan The Mission Impossible Tour 2018



Aplikasikan Mata Kuliah Tour Programming & Technic Guiding

Mahasiswa D3 Prodi UPW Akpar Majapahit Semester III ke Malaysia, Sukseskan The Mission Impossible Tour 2018

 

DEMI mengaplikasikan mata kuliah Tour Programming & Technic Guiding yang diasuh Drs Gatot Harjoso, empat mahasiswa D3 Prodi Usaha Perjalanan Wisata (UPW) Akpar Majapahit Semester III berangkat ke negeri jiran Malaysia untuk menyukseskan The Mission Impossible Tour 2018, tiga hari dua malam (3D2N) tepatnya pada Jumat (19/01/2018) pagi hingga Minggu (21/01/2018) malam.

Empat mahasiswa yang terbang ke Malaysia dengan menumpang pesawat AirAsia itu adalah Dicky Tri Darma, Jhoniarto Ngadu Banda, Sofyan Efendi dan Zakaria Latuputty. Sebelumnya bertolak ke Kualalumpur, mereka mengurus paspor terlebih dahulu di Kantor Imigrasi Kelas 1 Surabaya di Juanda.

Menurut Dicky Tri Darma, keberangkatan mahasiswa D3 Prodi UPW Akpar Majapahit itu misi awalnya adalah studi banding dengan travel agent di Kualalumpur. Mereka sedianya akan di dampingi Drs Gatot Harjoso, Dosen Tour Programming & Technic Guiding.

”Namun karena ada tugas mendadak dan tidak bisa diwakilkan, maka beliau tidak bisa mengawal kami ke Malaysia, padahal tiket sudah telanjur di-booking. Karena itu, mau tak mau, suka tidak suka, kami pun tetap melanjutkan The Mission Impossible Tour ke Malaysia.,” kata Dicky di dampingi Jhoniarto, Sofyan dan Zakaria di Graha Tristar Jl. Raya Jemursari No. 244 Surabaya, Jumat (26/01/2018) siang.

Keberangkatan empat mahasiswa Akpar Majapahit ini boleh dibilang bondho nekat (bonek) karena aksi mbolang-nya itu justru mendorong mereka tampil all out sebagai pelancong ala backpacker. Dengan berbekal uang saku pas-pasan (sekitar Rp 2 jutaan per orang) mereka tetap antusias mengunjungi Malaysia, demi menyukseskan The Mission Impossible Tour tersebut.

”Kalau rencana sudah disusun dengan baik, pantang bagi kami untuk mundur apalagi ticket pesawat sudah di tangan. Kami pun sepakat berkumpul di Terminal Keberangkatan, Terminal 2 Bandara Internasional Juanda pada Jumat (19/01/2018) pagi sekitar pukul 06.00,” tandasnya.

Masih menurut Dicky Tri Darma, pesawat AirAsia bertolak dari Surabaya ke Kualalumpur sekitar pukul 09.30 dan mendarat di Kualalumpur International Airport (KLIA) 2 sekitar pukul 11.40 waktu setempat.

Setelah mendarat di KLIA 2, empat mahasiswa Akpar Majapahit ini naik bus menuju pusat kota KL Sentral. KL Sentral ini memiliki fasilitas lengkap untuk memudahkan turis yang berkunjung ke negeri jiran Malaysia memilih layanan transportasi multimoda, seperti Kereta Api (KA), Light Rapid Transport (LRT) atau Monorail, Bus dan Taksi Argometer.

Dari KL Sentral, rombongan pelancong ala backpacker dari Surabaya ini naik LRT  ke My Hotel KL Sentral hanya 10 menitan. Setelah check in di hotel tersebut untuk menaruh barang, lalu mareka keluar hotel mencari makan siang (wisata kuliner) di NU Sentral, sebuah mall seperti Tunjungan Plaza (TP) di Surabaya.

Menu lunch yang dipilih pun tidak neko-neko, hanya makanan tradisional India yang dipatok @ 10 Ringgit atau sekitar Rp 30 ribuan per porsinya dan minumannya berupa teh panas (teh tarik) dihargai 2 Ringgit per gelasnya.

Usai menikmati makan siang bareng, agenda hari pertama (Jumat, 19/01/2018) meng-explore Kualalumpur pun dimulai. Mereka memutuskan pergi ke Bukit Bintang, sebuah kawasan perkotaan modern seperti di Tokyo (Jepang) atau New York (AS). Dari My Hotel KL Sentral ke Bukit Bintang hanya ditempuh 15 menitan dengan menumpang LRT.

Setelah puas menikmati keindahan Bukit Bintang, mahasiswa Akpar Majapahit ini pilih jalan kaki sejauh dua kilometer menuju Menara Kembar Petronas. Twin Tower milik Perusahaan Migas Malaysia (Petronas) itu berdiri megah di kompleks Kualalumpur Convention Centre (KLCC). Rombongan menikmati kemegahan Menara Kembar Petronas sekitar 60 menit sekalian berswafoto untuk mengisi waktu photo session bersama.

”Ada anggapan dari sebagian pelancong yang datang ke negeri jiran, kalau Anda tidak nampang untuk berswafoto di depan Menara Kembar Petronas, jangan bilang sudah pergi ke Kualalumpur,” tandas Dicky yang diamini tiga rekannya, Jhoniarto, Sofyan dan Zakaria.

Tak terasa hari sudah menjelang maghrib. Mereka pun  memutuskan kembali ke KL Sentral dengan menumpang LRT. Di KL Sentral, pelancong ala backpacker ini kongkow-kongkow di Mc Donald sambil menikmati menu santap malam dengan harga hemat tetapi mengenyangkan.

Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 waktu setempat, maka mereka pun kembali ke hotel untuk beristirahat. Keesokan harinya, tepatnya pada hari kedua (Sabtu, 20/01/2018) pagi, mereka sudah menyiapkan agenda untuk meng-explore sejumlah spot wisata di Kualalumpur.

Hal itu baru dilakoni bareng-bareng, setelah mereka menikmati sajian breakfast di sebuah warung kaki lima dekat My Hotel KL Sentral dengan menu nasi lemak dan teh tarik yang harganya dibandrol 12 Ringgit per orang.

Usai sarapan, mereka pun kembali naik LRT ke Bukit Bintang. Turun di Bukit Bintang naik bus KL Sentral menikmati agenda City Tour antara lain mengunjungi Museum Negara dan ber-selfie di sana. Dari museum lanjut ke Istana Negara sekalian foto-foto di depan istana tersebut.

Setelah puas mengabadikan keindahan istana itu, empat mahasiswa Akpar Majapahit ini meluncur ke Dataran Merdeka. Di kawasan itu banyak bangunan cagar budaya yang masih terawat baik dan bisa dinikmati siapa pun  yang datang ke Dataran Merdeka (suasananya mirip kawasan Jembatan Merah atau Tunjungan).

”Akses jalan di kawasan Dataran Merdeka kalau hari Sabtu ditutup untuk kegiatan Car Free Day (CFD) seperti di Taman Bungkul (kawasaan Jl. Raya Darmo Surabaya) yang juga ditutup untuk CFD setiap hari Minggu.

Begitu juga di KL City Gallery, foto-foto bangunan tua hingga modern bisa dinikmati oleh pengunjung. Foto-foto itu bercerita pembangunan infrastruktur di Kualalumpur sejak tempo dulu hingga era sekarang. Keberadaan bangunan tua atau bangunan cagar budaya itu mendapat perhatian serius dari Pemerintahan Malaysia untuk dijaga keunikan dan kelestariannya.

Setelah puas menikmati agenda City Tour, mereka pun balik lagi ke Bukit Bintang untuk belanja di pusat oleh-oleh Sungei Wang. Barang yang dijajakan antara lain t-shirt dan aneka souvenir cantik dengan harga terjangkau dan masih bisa dinego seperti di Pasar Atum. T-shirt, misalnya, beli dua hanya dihargai 15 Ringgit sedangkan kalau beli eceran dibandrol 10 Ringgit per potong.

Belum puas belanja oleh-oleh di Sungei Wang, rombongan melanjutkan perjalanan dengan LRT ke Pasar Seni (juga pusat oleh-oleh), namun karena salah jalur, mereka dikenakan denda 1,6 Ringgit atau sekitar Rp 10.000 per orang. Setelah sampai di Pasar Seni, mereka benar-benar dimanjakan dengan banyaknya pilihan barang yang ditawarkan pedagang kepada pengunjung.

”Sehingga kami pun betah berlama-lama keliling stand pedagang di Pasar Seni hingga tiga jam sekaligus memborong t-shirt dan sejumlah souvenir cantik dengan harga terjangkau karena harga barang yang dijajakan masih bisa dinego,” kata Dicky kepada kru www.culinarynews.info, kemarin siang.

Sekitar pukul 17.30 menjelang maghrib, mereka pun kembali ke hotel untuk melepas lelah setelah seharian meng-explore sejumlah spot wisata di Kualalumpur. Sebelum beristirahat sekitar pukul 22.00-an waktu setempat, mereka keluar hotel sebentar untuk mencari asupan malam di warung India. Mereka memesan nasi kambing, nasi ayam atau roti canai lengkap dengan teh tariknya, masing-masing dipatok @ 15 Ringgit perorang.

Pada hari terakhir (Minggu, 21/01/2018) pagi, empat mahasiswa Akpar Majapahit ini pilih jalan-jalan di sekitar hotel dan mencari sarapan berupa makanan halal di warung muslim dekat NU Sentral. Sekitar 30 menitan kemudian, mereka kembali ke My Hotel untuk persiapan check out hotel pukul 12.00 waktu setempat.

Usai  check out hotel, mereka pun langsung naik LRT dengan tujuan KL Sentral. Dari  KL Sentral dilanjutkan naik  KLIA Express, kereta api cepat yang mengantarkan mereka menuju bandara KLIA 2. Tarifnya 55 Ringgit per orang. Perjalanan dengan KLIA Express dari KL Sentral menuju bandara hanya memakan waktu 28-30 menitan.

”Kami sampai di KLIA 2 sekitar pukul 13.30-14.00 waktu setempat. Mengingat keberangkatan pesawat AirAsia dari Kualalumpur ke Surabaya baru pukul 19.10, berarti masih ada waktu tunggu sekitar enam jam yang kami pergunakan untuk leyeh-leyeh di bandara,” tutur Dicky. 

Setelah tiba waktunya untuk boarding, pihaknya langsung diminta naik pesawat AirAsia dan pesawat baru lepas landas (take off) sekitar pukul 19.35 atau molor 25 menit dari jadwal 19.10 waktu setempat. Penerbangan langsung dari Kualalumpur ke Surabaya malam itu ditempuh dua jam lebih 10 menit dan burung besi tersebut mendarat mulus di Bandara Internasional Juanda, Minggu (21/01/2018) malam sekitar pukul 22.00 WIB.  

Sebagai tambahan informasi, bagi pelancong ala backpacker dari Jatim yang akan ke pergi ke negeri jiran Malaysia yang perlu dicermati adalah ketatnya pemeriksaan dokumen keimigrasian oleh petugas dari Kantor Imigrasi Kelas 1 Surabaya di Juanda maupun petugas dari Kantor Imigrasi Malaysia di Kualalumpur International Airport (KLIA) 2. Good bye & see you tomorrow….!

Untuk informasi lebih lanjut tentang aneka kegiatan mahasiswa Akpar Majapahit silakan menghubungi Tim Marketing Akpar Majapahit, Gedung Graha Tristar Jl Raya Jemursari No. 244 Surabaya, Telp. (031) 843 3224-5, 0812 3375 2227. (ahn)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar