twitter

Pages

Selasa, 24 Oktober 2017

Mahasiswa D3 Prodi Usaha Perjalanan Wisata Semester V Kunjungi PPLH Seloliman dan Petirtaan Jolotundo di Trawas



Aplikasikan Mata Kuliah Perencanaan Pengembangan Pariwisata 

Mahasiswa D3 Prodi Usaha Perjalanan Wisata Akpar Majapahit Kunjungi PPLH Seloliman dan Petirtaan Jolotundo 

PADA akhir pekan lalu, tepatnya pada Sabtu (21/10/2017) dan Minggu (22/10/2017),  10 mahasiswa D3 Prodi Usaha Perjalanan Wisata (UPW) Akpar Majapahit Semester V, yang terdiri dari Anita Permatasari, Olga Claudia, Nikita Kinanthi, Diza Faiqotus, Sarah Ferina, Alexander Stanley, Sari Julianti Ningrum, Dewa Ayu Kade Utami Dewi, Andi Ira Issah dan Eka Yuliany Kurniawati.
 
Rombongan mahasiswa Akpar Majapahit ini mengunjungi objek ekowisata (eco tourism) Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Jatim dan situs purbakala Petirtaan Jolotundo (Candi Jolotundo) di Seloliman, Trawas, Kabupaten Mojokerto (wisata sejarah).

10 mahasiswa D3 Prodi UPW itu berangkat ke Trawas di dampingi Asisten Direktur III Bidang Kemahasiswaan Akpar Majapahit Maftucha Dipl. Hot. SE, M.Par, sekaligus dosen pembimbing pada mata kuliah Perencanaan Pengembangan Pariwisata.

Dipilihnya objek wisata PPLH Jatim di Seloliman dan Petirtaan Jolotundo, selain karena lokasinya relatif dekat dengan Surabaya, sekitar 55 kilometer, juga banyak pelajaran yang bisa dipetik oleh mahasiswa selama dua hari satu malam (2D1N) mengunjungi objek wisata tersebut. 

Kegiatan studi tur ini juga untuk mengaplikasikan antara teori di kelas dengan praktik di lapangan, mengingat PPLH Jatim merupakan wahana eco tourism yang cukup dikenal masyarakat karena eksistensinya yang mengedepankan berbagai aktivitas yang ramah lingkungan, mulai desain penginapannya (bungalow), cara bercocok tanam (budidaya pertanian), hingga menu yang disajikan (breakfast, lunch maupun dinner) kepada pengunjung, semuanya berbahan organik yang ramah lingkungan.

Sementara itu kunjungan ke situs purbakala Petirtaan Jolotundo, lokasinya sekitar 2,5 kilometer dari PPLH Jatim Seloliman, diharapkan memberi inspirasi kepada mahasiswa bagaimana mengelola sebuah objek wisata sejarah, yang sampai sekarang masih banyak dikunjungi masyarakat.

Oleh beberapa kalangan, air petirtaan Jolotundo tak hanya diyakini memiliki kandungan mineral yang tinggi.Lebih dari itu, sebagian mereka percaya jika ada obat awet muda di dalamnya. Lagi-lagi, karena kayanya kandungan bahan alami dari air yang bersumber dari pegunungan itu.

Mengingat Candi Jolotundo adalah pemandian ratu, lokasi seluas 1 hektare ini bukan hanya menjadi tempat wisata sejarah saja.banyak para pengalap berkah yang mandi di pemandian Jolotundo di jaman sekarang menginginkan kecantikan secantik ratu di jaman Majapahit.

Pengunjung yang melakukan ritual di sini untuk ngalap berkah. Berkah yang diharapkan oleh ritualis wanita adalah untuk menambah kecantikan dan awet muda. Khusus pada malam 1 Muharram atau 1 Suro tepat pada bulan purnama, Petirtaan Jolotundo dijejali pengunjung. Sebagian besar untuk melakukan kegiatan ritual dan sebagian lain sekadar menikmati siraman purnama objek wisata di tengah hutan rimba tersebut.

”Daya tarik wisata Petirtaan, selain syarat akan nilai sejarah dan mitos yang begitu kental, kawasan wisata ini juga memiliki fasilitas rekreatif lainnya seperti gazebo dan taman bermain anak yang dapat digunakan oleh pengunjung. Untuk masuk ke lokasi, pengunjung dikenakan tiket masuk sebesar Rp. 10.000 per orang,” kata Maftucha kepada kru www.culinarynews.info, Selasa (24/10/2017) siang.
.
Dalam studi tur itu, pihak panitia mengambil paket dua hari satu malam. Dengan biaya sekitar Rp 2,0 jutaan dengan fasilitas cottage berkapasitas 10 orang, sudah termasuk dua kali breakfast (sarapan pagi) dan dinner t(makam malam) tanpa jatah makan siang (lunch) karena mahasiswa ada aktivitas pada siang harinya di luar penginapan.

Selain itu, rombongan mahasiswa Akpar Majapahit juga mendapatkan pelayanan local guide secara gratis untuk pariwisata alternatif (eco tourism) dari pihak PPLH Jatim Seloliman. Local guide tersebut siap mendampingi mahasiswa napak tilas (dengan berjalan kaki) dari PPLH Seloliman menuju situs purbakala Petirtaan Jolotundo, sejauh 2,5 kilometer melalui jalan setapak di lereng Gunung Penanggungan.

Usai mengunjungi kedua objek wisata tersebut, mahasiswa diminta membuat aplikasi perencanaan wisata (tour planning) dengan kondisi riil di kedua objek wisata tersebut. Aplikasi perencanaan wisata itu bisa berupa laporan hasil studi tur yang draft-nya sudah disediakan pihak kampus dan selanjutnya dipresentasikan melalui seminar.

”Karena itulah, saya menugaskan mahasiswa untuk melakukan interview dengan beberapa pihak terkait mulai pengelola, pengunjung dan pelaku usaha di sekitar objek wisata tersebut. Kepada pengelola, misalnya, mahasiswa bisa menanyakan sejauh mana pemeliharaan dan pengelolaan sebuah objek wisata, jumlah pengunjung dan lain-lain,” terang bu Ucha, sapaan akrabnya. 

Anda tertarik dengan aneka kegiatan mahasiswa di kampus Akpar Majapahit dan ingin bergabung menjadi calon mahasiswa baru, silakan menghubungi Divisi Marketing Akpar Majapahit Jl Raya Jemursari No. 244 Surabaya, Telp. (031) 8433224-25, 8480821-22, sekarang juga. (ahn)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar