twitter

Pages

Sabtu, 30 September 2017

Mahasiswa Foodpreneur dan Pastry Class Tristar Institute Kaliwaron Sukseskan Acara Factory Visit 2017



Mahasiswa Tristar Institute Kaliwaron Belajar Foodpreneur

Mahasiswa Foodpreneur dan Pastry Class Tristar Institute Kaliwaron Kunjungi Pabrik Sari Roti di Beji dan UKM Keripik ’’So Kressh’’ Malang

PADA pertengahan Oktober 2017 ini atau tepatnya hari Selasa (17/10/2017) mendatang, sekitar 40-an mahasiswa Foodpreneur dan Pastry Class Tristar Institute Kaliwaron Kelas Pagi dan Kelas Siang, dijadwalkan akan mengikuti acara Factory Visit di Pabrik Roti Beji dan UKM Keripik ”So Kressh” Malang, untuk mengenal lebih dekat tentang sisik melik Foodpreneur.


Keberangkatan mereka ke Beji dan Malang di dampingi chef Renny Savitri, M.Par, Dosen Pastry Tristar Institute. Namun ada yang beda dari acara Factory Visit sebelumnya, karena dalam kegiatan kali ini pihak Akademik juga melibatkan mahasiswa dari Prodi D3 Usaha Perjalanan Wisata (UPW) Akpar Majapahit yang ditunjuk sebagai tour leader-nya

”Kami melibatkan mahasiswa Prodi D3 Usaha Perjalanan Wisata (UPW) Akpar Majapahit sebagai tour leader, karena kami ingin mereka juga mengenal lebih dekat dengan industri. Kami yakin terobosan ini bisa menjadi inspirasi bahwa mengunjungi pabrik juga bisa dikemas dalam sebuah paket tour yang menarik dan tentunya layak jual,” kata Ir Juwono Saroso MM, Presdir Tristar Group.

Program Factory Visit ini juga ditawarkan kepada masyarakat umum yang ingin melihat dari dekat industri pengolahan hasil pertanian (PHP) dari skala rumah tangga (home industry) hingga skala pabrikan besar dan canggih dengan memanfaatkan mesin-mesn modern. Peserta Factory Visit dari kalangan masyarakat umum dikenai biaya sekitar Rp 550 ribu perorang.

Masih menurut Juwono, kunjungan mahasiswa Tristar Institute Kaliwaron ke Pabrik Sari Roti di Beji, Kabupaten Pasuruan, mewakili pabrik besar dan canggih, sedangkan kunjungan ke UKM Keripik ”So Kressh” di Malang, mewakili usaha skala rumahan (home industry).

”UKM tersebut memproduksi aneka keripik buah (rasa manis) –apel, mangga, kesemek, nangka, nanas, pisak, salak, semangka— yang hanya membutuhkan modal kecil dan bisa dikerjakan di rumah,” kata Juwono Saroso di dampingi Renny Savitri kepada kru www.culinarynews.info, di ruang kerjanya, Sabtu (30/09/2017) siang.

Keunggulan keripik buah produksi UKM dari Malang itu selain produknya awet (tahan lama) dan mudah dijual sebagai camilan (snack), juga bisa diaplikasikan sendiri oleh mahasiswa setelah mereka lulus kuliah.

Misalnya, mahasiswa Tristar Institute Kaliwaron itu berasal dari Kalimantan, mereka bisa membuat olahan keripik cempedak dan keripik pisang yang produksinya cukup melimpah  di sana. Begitu juga jika mahasiswa Tristar Institute Kaliwaron itu dari Papua, maka mereka bisa membuka UKM skala rumahan untuk memproduksi keripik buah matoa.

Syaratnya pengelola UKM itu minimal punya mesin vacuum frying untuk mereduksi panas dari suhu 160*C menjadi 85*C (sekitar 50 persennya) agar saat pengeringan keripik yang berasa manis tersebut tidak gosong dan alat dehydrator.

Sedangkan kunjungan ke pabrik Sari Roti di Beji (industri skala menengah besar), menjadi acuan bahwa industri roti dewasa ini memanfaatkan mesin-mesin canggih dan modern, untuk menjaga mutu produk dan mengedepankan aspek hygiene & sanitation.

Untuk mencapai industri skala menengah besar tentunya diawali dari yang kecil dulu, maka mahasiswa Tristar Institute Kaliwaron juga diajak mengunjungi industri keripik skala rumahan (home industry) di Malang karena UKM ini dimulai dari dapur rumah tangga yang modalnya relatif kecil kemudian berkembang sampai menjadi pabrik roti skala besar dan secanggih itu.

Manfaat lain yang bisa dipetik adalah mengkreasi hasil pabrik roti, misalnya roti tawar produksi Sari Roti bisa dikreasikan menjadi bread butter pudding, sehingga tidak ada limbah (waste) dalam sebuah industri roti.

Selain itu, roti-roti yang tidak bisa terjual (balen) bisa dimanfaatkan untuk tepung roti. Tepung roti ini dipakai untuk melapisi risoles atau bisa juga didaur ulang menjadi roti bagelen (roti kering yang di tengahnya dikasih mentega dan ditaburi gula pasir).

”Belakangan permintaan pasar terhadap produk roti bagelen meningkat pesat, sehingga produsennya tidak lagi mengandalkan bahan baku dari limbah industri roti, tetapi membuat adonan sendiri seperti layaknya membuat roti baru pada umumnya,” tambah Renny Savitri M.Par., yang juga dikenal sebagai Dosen Pastry Akpar Majapahit.

Pembelajaran seputar sisik melik Foodpreneur kepada mahasiswa Foodpreneur dan Pastry Class Tristar Institute Kaliwaron dirancang sebagai berikut: (1). Pertemuan hari pertama teori di kelas, (2). Tatap muka hari kedua factory visit, (3). Hari ketiga diskusi dengan dibimbing dosen, (4). Hari keempat praktik food creation di Dapur Pastry dan (5). Pada tatap muka hari terakhir presentasi Business Plan di kelas dibimbing dosen.

Kepada peserta Factory Visit, pihak Panitia antara lain menyediakan transportasi bus mini full AC, reclining seat, makan siang (lunch) dan goodybag yang berisi jaket, air minum dalam kemasan ukuran cup (220 ml) dan snack (camilan atau makanan ringan).

Anda tertarik aneka kegiatan mahasiswa dan ingin menjadi bagian dari civitas akademika Tristar Institute Kaliwaron, silakan datang langsung ke Kampus Tristar Institute Jl Kaliwaron No. 58-60 Surabaya, Telp. (031) 5999593, sekarang juga. (ahn)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar