twitter

Pages

Jumat, 28 Juli 2017

Mahasiswa S1 Tekpan Tristar Institute Presentasi Proposal Business Plan



Mahasiswa S1 Tekpan Tristar Institute Belajar Foodpreneur

Usai Praktik Buat Aneka Keripik, Mahasiswa S1 Tekpan Tristar Institute Presentasikan Proposal Business Plan

USAI praktik membuat aneka keripik selama empat hari tatap muka pada pekan terakhir bulan Juli 2017, tepatnya mulai Senin (24/07/2017) hingga Kamis (27/07/2017) siang, 12 mahasiswa S1 Tekpan Tristar Institute Jemursari Kelas Siang, diminta mempresentasikan proposal business plan di hadapan Endang Sri Rahajoe, dosen pembimbing mata kuliah Food Technology.


Presentasi proposal business plan yang diikuti 12 mahasiswa --terbagi dalam enam kelompok masing-masing beranggotakan dua orang mahasiswa-- tersebut dihelat pada Jumat (28/07/2017) siang, di Lantai 4 Gedung Graha Tristar Jl. Raya Jemursari No. 244 Surabaya.

Kelompok 1 anggotanya Komang Ayu Trisna Widayanti dan Inggrid Nabila Puspitasari. Mereka mempresentasikan proposal business plan-nya tentang peluang usaha Keripik Ubi Ungu Manis. Produksi keripik ubi ungu ini ditawarkan dua varian yakni rasa manis coklat dan rasa manis gula bubuk.

”Untuk harga eceran di toko kue, pusat oleh-oleh dan pedagang asongan, kami mematok harga Rp 8000 per pak ukuran 100 gram,” kata Ayu, sapaan akrab Komang Ayu Trisna Widayanti kepada kru www.culinarynews.info, usai presentasi, kemarin.

Selanjutnya yang maju presentasi adalah Kelompok 2. Personelnya terdiri dari Muhammad Aminul Hakim dan Joseph Heda Hidayat. Mereka memaparkan proposal business plan-nya tentang peluang bisnis Keripik Singkong Aneka Rasa.

Kami mempresentasikan usaha rintisan ini dengan harapan bisa mengisi ceruk pasar keripik yang masih terbuka. Keripik singkong produksi kami dibuat dengan aneka rasa untuk menarik konsumen,” kata Joseph usai presentasi.

Masih menurut Joseph, harga eceran keripik singkong aneka rasa ini dipatok Rp 17 ribu per pak dengan ukuran 100 gram. Keripik ini rencananya dipasarkan secara door to door, keliling (tim kanvaser), melalui event-event dan restoran.

Sedangkan Kelompok 3 yang beranggotakan Syaifullah Yusuf dan Muhammad Lucky Kurniawan P., mempresentasikan proposalnya tentang peluang usaha Genzy Singkong Olahan di hadapan dosen pembimbing dan rekan sejawat.

Dengan mengadopsi nama dagang Genzy Singkong Olahan, pihaknya optimistis jika keripik singkong produksinya bisa menembus pasar dan merebut hati konsumen yang menginginkan tampilan kekinian yang berbeda dari biasanya.

”Selain itu untuk menarik minat pembeli, keripik ini kami jual secara ritel dengan harga Rp 5000 sampai Rp 10 ribuan per pak.  Keripik ini dikemas dalam kemasan plastik cantik ukuran 50 gram dan 100 gram,” tandasnya.

Giliran yang tampil untuk presentasi adalah Kelompok 4. Anggota kelompok ini adalah Kevin Irawan dan Eroldo. Mereka dengan penuh percaya diri mempresentasikan proposal business plan-nya yang mengangkat peluang usaha keripik Stik Keju (Cheese Stick).

”Keripik Stik Keju yang kami buat dipasarkan secara ritel di kalangan pedagang kaki lima (PKL), pedangan asongan, toko-toko, usaha pracangan hingga kantin-kantin sekolah dengan harga eceran kami patok Rp 8000 per pak ukuran 100 gram,” kata Kevin dan Eroldo, saat presentasi di depan kelas.

Berikutnya Kelompok 5 yang maju presentasi di hadapan Endang Sri Rahajoe, dosen pembimbing. Anggota Kelompok 5 yakni Melvin Septian Budiono dan James Armando Suroso, memaparkan proposal business plan-nya yang mengusung peluang bisnis Keripik Jamur (Tiram) Pedas. Dengan merek dagang Japynak.

Japynak kepanjangan dari Jamur Crispy Enak ini ditawarkan secara ritel melalui layanan on line system maupun direct selling. Selain itu pihaknya juga memanfaatkan jaringan penjualan dengan melibatkan pedagang asongan, PKL, toko-toko ritel hingga restoran sebagai mitra bisnisnya.

Untuk menarik minat konsumen beli, keripik Japynak itu dibuat aneka rasa mulai rasa balado, BBQ (jagung bakar), rasa pedas hingga manis asin. Namun sampai presentasi berakhir, Melvin dan James belum berani menyajikan harga eceran dan ukuran kemasannya karena berdalih masih belum menghitung HPP produk-nya.

Melihat proposal business plan yang dipresentasikan Melvin dan James, Endang Sri Rahajoe memberikan apresiasi positif karena 90 persen proposalnya sudah benar dan kedua personel Kelompok 5 itu tidak terprovokasi oleh contoh proposal usaha yang dibuat oleh dosen pembimbing.

Giliran yang tampil terakhir adalah Kelompok 6, yang beranggotakan Muhammad Ilham Ramadhan dan Abdullah Umar Al-Farouq. Kedua mahasiswa ini all out saat mempresentasikan proposal business plan-nya yang mengangkat peluang usaha Keripik Singkong Si-Ngkong di depan kelas.

”Kami optimistis jika Keripik Singkong Si-Ngkong ini mampu bersaing dengan produk sejenis di pasaran meskipun hanya kami produksi satu rasa. Selain karena harga ritelnya murah banget atau hanya dibandrol Rp 13 ribuan per pak dengan ukuran 200 gram, keripik rasa balado peminatnya pun dari semua kalangan,” katanya setengah berpromosi.

Prinsipnya, kedua mahasiswa ini ingin mengubah yang biasa menjadi luar biasa. Dari harga singkong hanya Rp 5 ribu per kg (saat panen) setelah diolah menjadi produk olahan keripik harganya bisa melejit karena HPP produk-nya tidak lebih dari Rp 4200 per 200 gram.

Untuk mendapatkan Keripik Singkong Si-Ngkong, konsumen bisa mendapatkannya di toko-toko pracangan, pusat oleh-oleh, pedagang kaki lima (PKL), pedangan asongan hingga restoran dan hotel berbintang. ”Kami juga menjalin kerja sama dengan koperasi sekolah dan memasarkannya secara on line system dengan memanfaatkan media sosial yang lagi booming belakangan ini,” terang Umar Al-Farouq.

Anda tertarik aneka kegiatan mahasiswa dan ingin menjadi bagian dari civitas akademika Tristar Institute, silakan datang langsung ke Kampus Tristar Institute cq Akpar Majapahit Jl Raya Jemursari No. 244 Surabaya, Telp. (031) 8433224-25, sekarang juga. (ahn)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar