twitter

Pages

Rabu, 22 Maret 2017

Mahasiswa D3 Prodi UPW Akpar Majapahit Semester II Observasi Spot Wisata Bangkalan



Aksi Mahasiswa Akpar Majapahit Pasca Libur Semesteran

Mahasiswa D3 Prodi Usaha Perjalanan Wisata Akpar Majapahit Semester II Explore Bukit Juddih di Bangkalan

PASCA libur semesteran, empat mahasiswa D3 Prodi Usaha Perjalanan Wisata (UPW) Akpar Majapahit Semester II dan seorang mahasiswa D3 Prodi Perhotelan Akpar Majapahit Konsentrasi Culinary sepakat meng-explore objek wisata Bukit Juddih di Bangkalan, Madura, akhir pekan lalu.

Mahasiswa Akpar Majapahit yang menyukseskan kegiatan tersebut adalah Nabila Salsabila, Nurul Hamidah, Rusydi Fawaid, Tasya Novita Iskandar dan Teguh Budi Pekerti. Kegiatan mahasiswa itu dihelat seusai jam kuliah, tepatnya pada Jumat, 17 Maret 2017, akhir pekan lalu.

Kegiatan observasi tersebut, selain bertujuan mempertajam pemahaman mahasiswa dalam mengaplikasikan mata kuliah yang baru pada awal Semester II, juga ingin menikmati keindahan destinasi wisata Madura, khususnya Bangkalan dan sekitarnya, yang terbukti mampu memikat kunjungan wisatawan domestik.

Sesuai kesepakatan sebelum berangkat ke Bangkalan, mereka memutuskan meeting point di lobi kampus Akpar Majapahit Jl. Raya Jemursari No. 244 Surabaya pada Jumat (17/03/2017) siang, seusai shalat Jumat, sekitar pukul 12.30 WIB. Setelah peserta Bangkalan Tour lengkap, rombongan –semuanya mengenakan baju batik-- langsung meluncur ke spot wisata Bukit Juddih, Kecamatan Bilaporah, Bangkalan dengan menumpang kendaraan pribadi yang dikemudikan Rusydi Fawaid.

Perjalanan darat siang itu dari kampus menuju Kenjeran, Jembatan Suramadu ke arah Bukit Juddih Bangkalan sejauh 50-an kilometer relatif lancar. Untuk sampai di Bukit Juddih perjalanan memakan waktu sekitar 1,5 jam. Mobil rombongan mahasiswa D3 Prodi UPW Akpar Majapahit memasuki kawasan spot wisata Bukit Juddih, Kecamatan Bilaporah, Bangkalan sekitar pukul 14.00 WIB.

Keindahan alam Bukit Juddih tampak dari kejauhan sebelum kendaraan yang ditumpangi rombongan merapat di area parkir spot wisata tersebut. Bukit Juddih merupakan bukit kapur di kawasan Pegunungan Arosbaya, yang menjadi salah satu jujukan wisatawan domestik kala mereka plesir ke Madura.

Bukit Juddih boleh jadi menjadi salah satu sarana refreshing alternatif bagi sebagian orang karena lokasinya tidak jauh dari Surabaya. Di kawasan wisata Bukit Juddih ada Telaga Biru (Blue Lake) dan Puncak Arosbaya yang pernah disambangi tim dari My Trip My Adventure, program unggulan salah satu Stasiun TV Swasta Nasional.

Di kawasan perbukitan kapur itu, Anda bisa meng-explore keunikan dan keindahan Bukit Juddih sekalian ber-selfie bareng bersama keluarga, sahabat karib dan orang-orang terkasih. Hal itu juga dilakukan rombongan mahasiswa Akpar Majapahit ketika mereka menikmati keunikan Bukit Juddih, telaga biru dan puncak Arosbaya.

Pasalnya, saat datang di kawasan Bukit Juddih, pelancong yang datang juga bisa melihat langsung aktivitas para pekerja (penambang) batu kapur yang sedang memotong batuan kapur –dengan gergaji mesin--  dan dibentuk menjadi kubus. Batuan kapur itu ditambang menjadi bahan bangunan sebagai pengganti batu kali untuk pondasi bangunan rumah maupun gedung.

”Untuk masuk spot wisata Bukit Juddih, setiap kendaraan roda empat dikenai retribusi Rp 5000, sementara itu saat memasuki area Telaga Biru (Blue Lake) setiap pengunjung wajib bayar tiket masuk Rp 3000 perorang dan ongkos parkir mobil Rp 10 ribu. Jadi totalnya kami berlima hanya bayar Rp 30.ribuan, demi bisa menikmati keunikan Bukit Juddih,” kata Rusydi kepada kru www.culinarynews.info, Rabu (23/03/2017) siang.

Kuliner di kawasan Bukit Juddih tidak banyak pilihan karena hanya tersedia jajanan dan es degan (kelapa muda), selebihnya pengunjung Bukit Juddih –setelah rombongan puas ber-selfie ria di sana sekitar satu jam—rombongan harus kembali ke Bangkalan atau melanjutkan agendanya dengan berwisata kuliner ke Restoran Bebek Sinjay Jl. Raya Ketengan 45, Tunjung, Kecamatan Burneh, Kab. Bangkalan, Madura.

Uniknya, pengelola Restoran Bebek Sinjay tidak melayani booking, tetapi tamu harus datang langsung ke tempat, baru dilayani. Menu nasi bebek goreng dengan sambal pencit (mangga muda) dan kremesannya –ciri khas di restoran itu-- sudah dikenal luas oleh masyarakat Madura khususnya dan Jatim pada umumnya. Rasanya dijamin maknyusss…!

Konsumen bisa memesan nasi bebek goreng paketan yang dipatok Rp 25 ribu per porsi sudah termasuk satu teh botol dingin. Namun jika pengunjung minta minuman lain, es jeruk misalnya, maka dikenakan tarif makan nonpaketan.

Misalnya saat rombongan mahasiswa (lima orang) memesan lima porsi plus minuman (bukan teh botol dingin), ditarik sekitar Rp 132 ribuan. ”Untuk tagihan sebesar itu boleh dibilang hemat untuk ukuran kantong mahasiswa,” pungkas Rusydi Fawaid, mahasiswa asal Gresik ini menutup wawancara. (ahn)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar