twitter

Pages

Jumat, 09 Desember 2016

Mahasiswa D3 Prodi UPW Akpar Majapahit Semester I Praktik Studi Observasi



Untuk Mengaplikasikan Mata Kuliah Basic Tourism

Mahasiswa D3 Prodi Usaha Perjalanan Wisata Akpar Majapahit Semester I Praktik Studi Observasi

DEMI mengaplikasikan mata kuliah Basic Tourism yang diajarkan oleh Imania Ayu Wulandhari ST.Par., Dosen Akpar Majapahit, 11 orang mahasiswa D3 Prodi Usaha Perjalanan Wisata (UPW) Akpar Majapahit Surabaya, praktik Studi Observasi dengan mengunjungi sejumlah spot wisata di Surabaya, pada akhir November 2016 lalu.

Sebanyak enam spot wisata di Kota Pahlawan yang diobservasi oleh mahasiswa yakni  Hutan mangrove di kawasan Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya), Monumen Tugu Pahlawan, Kampoeng Kraton atau disebut Maspati (kampung lawas di Pusat Kota  Surabaya yang diapit Jl. Kapaskrampung dan Jl. Pahlawan), Makam Sunan Ampel dan Monumen Suro & Boyo di depan Kebun Binatang Surabaya (KBS) pada akhir November 2016 lalu.

11 mahasiswa yang mengikuti Praktik Basic Tourism itu adalah Alfin Dwi Ardandi, Astri W. Oqtavia, Joniarto Ngadu B., Nabilah Salsabila, Nurul Hamida, Dicky Tri Darmawan, Rusydi Fawaid, Sheila Donita, Sofyan Efendi, Tasya Novita, dan Zakaria Latuputty. Mereka dibagi dalam enam kelompok kecil, masing-masing beranggotakan dua orang.

Hutan mangrove di kawasan Pantai Timur Surabaya merupakan salah satu spot wisata eco tourism yang dikembangkan oleh Pemkot Surabaya untuk mengurangi dampak buruk dari abrasi pantai dan instrusi air laut ke daratan (ancaman banjir rob) sehingga ekosistem pantai tetap terjamin kelestariannya.

Keberadaan hutan mangrove di Pamurbaya kini mulai memberi dampak positif bagi peningkatan sosial ekonomi warga setempat, karena mampu membuka lapangan kerja bagi penduduknya, seperti layanan jasa perahu tempel, usaha kecil pembuatan sirup dari buah mangrove, perajin batik mangrove hingga usaha kuliner berkembang di kawasan Pamurbaya.

Monumen Tugu Pahlawan menjadi salah satu spot wisata kebanggaan Arek-arek Suroboyo. Pasalnya, monumen ini dibangun untuk menghormati aksi heroik Arek-arek Suroboyo melawan balatentara Belanda yang mendompleng Pasukan Inggris (Sekutu) pada perang 10 November 1945, demi mempertahankan kemerdekaan.

Monumen Tugu Pahlawan yang dibangun atas inisiatif Presiden Pertama Republik Indonesia Ir Soekarno, untuk menghormati pertempuran heroik Arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan. Monumen tersebut telah dilengkapi dengan museum yang peresmiannya dilakukan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Tak jauh dari Monumen Tugu Pahlawan, keberadaan Kampoeng Kraton atau disebut juga Maspati merupakan kampung lawas yang berada di Pusat Kota Surabaya yang keberadaannya diapit oleh Jl. Kramatgantung dan Jl. Pahlawan.

Denyut kehidupan di kampung lawas itu sampai sekarang masih tetap eksis, sekalipun Surabaya yang dulu merupakan kampung besar bagi penduduknya kini sudah menjelma menjadi sebuah kota metropolitan.

Di kota lama Surabaya, tepatnya di kawasan Ampel (Masjid Ampel), peninggalan Sunan Ampel, menjadi jujukan warga Surabaya maupun luar kota dan luar Jawa yang ingin berziarah ke makam Sunan Ampel, salah satu tokoh penting dalam syiar Islam di Pulau Jawa (Walisongo).

Masjid Ampel sampai sekarang menjadi salah satu spot wisata religi di Surabaya –di samping Makam Mbah Bungkul-- yang banyak dikunjungi masyarakat untuk ngalap berkah terutama pada Perayaan Suroan atau Tahun Baru Islam (1 Muharram), Maulid Nabi, Isra Mi’raj, dan Bulan Suci Ramadhan.

Monumen Suro & Boyo, di depan Kebun Binatang Surabaya (KBS), dibangun Pemkot Surabaya untuk mengisahkan pertarungan sengit antara Suro (Ikan Hiu) melawan Boyo (Buaya). Legenda tersebut memunculkan nama Surabaya yang mendunia dan menjadi kebanggaan warganya.

Studi observasi mahasiswa D3 Prodi Usaha Perjalanan Wisata (UPW) Akpar Majapahit Semester I tersebut, dipungkasi dengan melakukan observasi ke objek wisata alam Wonosalam Kabupaten Jombang.

Wonosalam selain punya pemandangan alam berupa gunung yang berparonama indah, juga dikenal sebagai penghasil buah durian dan buah salak yang rasanya manis. Durian dan salak merupakan komoditas pertanian yang banyak dibudidayakan petani setempat.

Nah, Anda tertarik dengan aneka kegiatan mahasiswa di kampus Akpar Majapahit dan ingin bergabung dengan civitas akademika Akpar Majapahit, silakan menghubungi Tim Marketing Akpar Majapahit Jl Raya Jemursari No. 244 Surabaya, Telp. (031) 8433224-25, 8480821-22, sekarang juga. (ahn)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar