twitter

Pages

Selasa, 26 Januari 2016

Mahasiswa D3 Akpar Majapahit Jemursari Gelar UKM Kewirausahaan



Mahasiswa D3 Akpar Majapahit Jemursari Gelar UKM Kewirausahaan

Buat Kreasi Donat dan Jelly Milk, Laris Manis Diorder Konsumen

SETELAH menunggu hampir tiga pekan pasca liburan Natal dan Tahun Baru 2016, Akademi Pariwisata (Akpar) Majapahit Jemursari  menghelat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kewirausahaan terkait Matakuliah Keahlian dan Ketrampilan (MKK) Terpadu. UKM Kewirausahaan ini diikuti 22 mahasiswa D3 Perhotelan dan dihelat selama empat hari kerja mulai Kamis (21/01/2016) sampai Senin (25/01/2016).

Jika pada Kamis (21/01/2016) lalu, mahasiswa bahu membahu menyiapkan lima macam makanan Jepang dengan citarasa Indonesia, yakni (1). Nasi Jepang (Sego Jepang) bumbu Kimochi dan Oranje, (2). Takoyaki, (3). Sushi Jawa, (4). Ekkado dan (5). Wecimiyaki di Dapur Uji Kampus Jl Raya Prapen Indah J-5 (Kampus J-5).

Pihak akademik mempercayakan Dosen Culinary Akpar Majapahit Adeline Nadya Daniel atau yang akrab disapa Chef Della, untuk mendampingi mahasiswa dalam menyukseskan pelaksanaan UKM Kewirausahaan tersebut.   Untuk membuat lima macam masakan Jepang, 22 mahasiswa  itu mendapat pinjaman modal usaha sebesar Rp 2,2 juta (@ Rp 100.000 perorang) dari pihak kampus.

Sementara itu pada keesokan harinya, Jumat (22/01/2016), giliran mereka membuat Kreasi Donat dan Jelly Milk dengan mengusung brand Zugamama. Dosen Pastry Akpar Majapahit Chef Otje Herman Wibowo ditunjuk pihak akademik untuk mengawal mahasiswa selama kegiatan tersebut berlangsung di Dapur Uji Kampus J-5.

Ditemui kru www.culinarynews.info di Dapur Uji J-5, Jumat (22/01/2016), Agung Budi Dharma mengatakan, UKM Kewirausahaan ini menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa D3 Akpar Majapahit untuk menunjukkan kebersamaan dalam menjalankan sebuah usaha dengan pendekatan manajemen kekinian.

Untuk mengorganisir agar semua bagian berjalan sesuai rencana, pihaknya berbagi tugas agar semua personel punya tanggung jawab sesuai job desk-nya masing-masing. Dengan demikian, tidak ada satupun mahasiswa yang menganggur saat temannya yang lain sibuk bekerja di dapur. Pasalnya, ada mahasiswa yang kebagian tugas mempersiap etiket untuk kemasan jelly milk dan donat hingga memasarkannya.

”Kita sepakat bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mengukur sejauh mana kiprah seluruh anggota tim –dari 22 mahasiswa yang terlibat—menunjukkan kinerja dan tanggung jawab demi memperoleh hasil yang maksimal yakni bagaimana meraih untung kala dipercaya kampus menjalankan bisnis sekalipun dalam skala kecil,” terang Agung.

Dari pihak kampus, mahasiswa hanya dimodali Rp 500.000 sebagai pinjaman. Modal tersebut dipakai untuk membuka usaha pastry –membuat donat dan jelly milk— yang produknya bisa diterima konsumen dengan harga terjangkau dan pelaksananya mampu meraih profit.

Tentu saja tantangan itu direspons positif oleh mahasiswa, setelah sehari sebelumnya sukses menjajakan lima macam makanan Jepang dengan citarasa Indonesia yang diproduksi pada Kamis (21/01/2016).

Sukses ini karena pihaknya bahu-membahu menawarkan produk itu kepada konsumen –mahasiswa, dosen, karyawan Akpar Majapahit dan kalangan umum--  dengan harga kompetitif sepekan sebelum hari H makanan Jepang tersebut dibuat di Dapur Uji Kampus J-5..

”Begitu juga untuk menjajakan donat dan jelly milk yang kita bikin, juga ditawarkan ke konsumen sepekan sebelum diproduksi. Tak salah jika preorder (PO) yang masuk untuk pemesanan donat menembus 24 pack. Harga setiap pack-nya (isi 6 buah) dipatok Rp 15.000,” ujarnya.

Sedangkan preorder (PO) untuk pemesanan jelly milk mencapai 80 botol (isi 250 ml). Setiap botol harganya  dibandrol Rp 7000. Daya tarik konsumen terhadap jelly milk yang dibuat mahasiswa karena ada tujuh pilihan rasa yakni coklat, strawberry, oreo, vanilla, rum, mollen dan taro. Kegiatan UKM Kewirausahaan ini terus bergulir selama tiga hari hingga Senin (25/01/2016).

Melihat trend permintaan selama tiga hari (rata-rata PO untuk donat di atas 70 pack per hari dan jelly milk 80 botol lebih setiap harinya, maka pihaknya optimistis bisa menagguk untung 35 persen. Dari profit kotor 35 persen setelah dipotong modal Rp 500.000, pihaknya masih membagi keuntungan kepada kampus 15 persen, sehingga keuntungan bersih yang menjadi hak mahasiswa tinggal 20 persenan.

”Hitung-hitungan tersebut sudah saya sampaikan kepada teman-teman. Kita sepakat untuk mengejar keuntungan bersih 20 persenan, setelah dipotong modal Rp 500.000 dan sharing profit 15 persen kepada pemberi modal. Mudah-mudahan profit bersih dari usaha ini tembus, Tentunya setelah total pendapatan usaha (omzet) selama tiga hari itu diaudit oleh pihak keuangan kampus,” paparnya.

Asisten Direktur III Bidang Kemahasiswaan Akpar Majapahit Maftucha Dipl.Hot., SE, M.Par memberi apresiasi tinggi terhadap sepak terjang 22 mahasiswa D3 yang bekerja all out menyukseskan gelaran UKM Kewirausahaan yang dihelat selama empat hari di Dapur Uji J-5 sejak pekan lalu.

Dengan praktik langsung bagaimana mengelola usaha sendiri –sekalipun masih dalam skala mikro kecil--  pihaknya optimistis jika pembelajaran ini menjadi bekal berharga bagi mahasiswa untuk diaplikasikan setelah kelak mereka lulus kuliah dan mendedikasikan ilmunya kepada masyarakat.

”Saya juga berharap bahwa dengan pembelajaran langsung seperti ini bakal melahirkan entrepreneur-entrepreneur muda yang andal di masa mendatang. Diantaranya adalah para lulusan dari Akpar Majapahit,” tandas Bu Ucha, sapaan akrabnya kepada kru www.culinarynews.info di ruang kerjanya, kemarin. (ahn)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar