twitter

Pages

Kamis, 03 Desember 2015

Tampil Beda, Mahasiswa dan Dosen Akpar Majapahit dalam Balutan Pakaian Tradisional Belanda

Kemeriahan Wisuda VII Akpar Majapahit di Hotel Bumi, 29 November 20159N
ov
Tampil Beda, Mahasiswa dan Dosen Akpar Majapahit dalam Balutan Pakaian Tradisional Belanda

ADA pemandangan berbeda dari biasanya pada gelaran Wisuda VII Akademi Pariwisata Majapahit di Hotel Bumi Surabaya, Minggu (29/11/2015) lalu. Jika pada hari kerja, mahasiswa dan dosen berkutat dengan seragam chef saat beraktivitas di dapur pastry dan culinary. Namun, pada gelaran wisuda akhir pekan lalu, beberapa mahasiswa dan dosen tampil beda. Mereka mengenakan pakaian tradisional Belanda yang cukup popular yakni Klederdracht.

Lihat saja penampilan dosen Pastry Akpar Majapahit Chef Arwati dan asistennya Chef Ita. Tak hanya itu empat mahasiswa Akpar Majapahit juga tampil heboh ala sinyo dan noni Belanda tempo doeloe. 

Selain itu, untuk menambah suasana terasa Belanda banget, panitia wisuda juga menghadirkan pernak pernik pendukungnya sehingga meja resepsionis dan pojok Airlangga Room Hotel Bumi sukses disulap seperti layaknya pedesaan di Negeri Kincir Angin.
Tepatnya seperti suasana kampung pinggir pantai di Volendam dengan latar belakang rumah, bunga tulip dan kincir angin. Penduduk yang tinggal di sana kebanyakan mengenakan baju tradisional tersebut.

Secara lebih spesifik lagi klederdracht biasanya dikenakan bersama dengan topi runcing berwana putih yang disebut njekither serta sepatu kayu yang unik dan lucu. Klederdracht ini sering kali ditampilkan pada iklan-iklan produk asli kebanggaan Belanda. 

Selain klederdracht, terdapat pula pakaian tradisional Belanda lainnya berbentuk celana gombrang hitam dengan baju merah plus songkok tinggi yang biasa dikenakan oleh para pria.

Di Belanda sendiri tidak mudah menemukan orang yang memakai busana tradisional, karena hampir semua orang sudah menggunakan pakaian yang modern dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Meskipun beberapa orang yang bekerja di toko souvenir atau toko-toko yang menjual makanan khas Belanda masih menggunakan busana klederdracht tersebut. 

Jika Anda memiliki kesempatan untuk berwisata ke negara Belanda tidak ada salahnya jika anda berkunjung ke kota Volendam yang terletak di provinsi North Holland, Belanda, tepatnya 20 km ke utara dari Amsterdam untuk berfoto ria menggunakan pakaian tradisional Belanda. 

Sebab di kota ini terdapat banyak sekali studio foto yang menyediakan pakaian-pakaian khas ala Belanda lengkap dengan klompen, sepatu atau selop dari kayu dan segala macam aksesoris pendukungnya.

Volendam hanya sekitar 20 kilometer dari Amsterdam. Dari kota itulah orang mengenal Belanda tempo dulu. Hampir semua orang Indonesia yang mempunyai koleksi foto diri dengan kostum khas Negeri Tulip itu berpose di studio tersebut. Sudah tak terhitung turis Indonesia yang dijepret 

Studio foto Zwarthoed didirikan sejak 1920, saat kawasan nelayan itu mulai berkembang menjadi daerah wisata. Agar orang Indonesia tergoda untuk mampir, studio tersebut memajang sejumlah foto tokoh dan selebriti Indonesia di etalase.

Sebenarnya, cukup banyak pakaian tradisional Belanda. Sebab, setiap daerah punya pakaian khas. Tapi, yang paling populer adalah pakaian Volendam. Pakaian pria berupa celana gombrang hitam dengan baju merah plus songkok tinggi. Banyak pilihan properti sebagai aksesori saat dijepret.

Misalnya, sambil memegang alat musik akordion atau pipa rokok. Atau, sambil memegang jaring ikan, tong plastik, serta anyaman bambu berisi ikan.

Pengunjung perempuan bisa berpose sambil memegang bunga tulip. Semua harus memakai klompen, sepatu atau selop dari kayu khas negeri itu. Agar seolah-olah alami, studio tersebut menyediakan backdrop pemandangan seperti di pinggir pantai atau di dalam rumah khas Belanda, lengkap dengan perapiannya. Hasilnya, foto itu memang seindah aslinya.

Walaupun sesaat, dengan pakaian dan aksesori tradisional tersebut, tamu yang menghadiri prosesi acara wisuda VII Akpar Majapahit akhir pekan lalu memberi apresiasi positif dan mereka pun bisa menangkap denyut masa lalu negeri Belanda.


Direktur Akpar Majapahit Ir Juwono Saroso MM bersama keluarga juga menyempatkan diri untuk foto bareng dengan dosen dan mahasiwa Akpar Majapahit yang all out ketika memeriahkan acara Wisuda VII Akpar Majapahit sekaligus memeringati Hari Ulang Tahun ke-49 Pak U-Won, sapaan akrab alumni FMIPA ITS tersebut. (ahn)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar